Upacara BuKu 1: Pram Dari Dalam oleh Soesilo Toer

Upacara BuKu adalah upacara selepas selesai membaca buku dengan memuatkan kata-kata indah, pemikiran mendalam, dan refleksi mencabar dari penulis. Kata-kata, pemikiran dan refleksi yang dikongsikan disini adalah yang menyentuh hati pembaca seperti saya dan memberi impak yang mendalam. Jadi, sukanya saya berkongsi kepada semua diluar sana walaupun ada yang mungkin tidak mahu tahu apa isi buku ini.

Refleksi 1

Manusia adalah makhluk tunggal. Artinya tidak ada duanya, tidak ada kopiannya, dan tidak ada kembarannya. Yang bernama bayi kembar pun berbeda. Karena itulah ada yang mengatakan serupa tapi tak sama dan itu sama sekali tidak salah, bahkan mutlak benar adanya.

Manusia harus membayar semua utangnya kalau mau disebut manusia, tentu dengan bunganya, manusia yang hanya membayar utangnya, belum seutuhnya menjadi manusia. Yang komplet adalah yang mampu membayar utang dan bunganya oleh Multatuli.

Manusia makin congkak dan pongah. Tetapi manusia adalah kodrat oleh sesuatu kekuatan di luar dirinya. Ia suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, harus tunduk pada kekuatan di luar dirinya itu. Sekadar untuk mengatasi kodrat mahadasyat dan tidak bisa dicegah oleh kekuatan otak manusia yang sehebat apa pun. Manusia harus menciptakan suatu kekuatan untuk membela diri atau menghibur diri, guna sekadar menunggu kodrat yang sewaktu-waktunya muncul tanpa diketahui kapan datang. Persekutuan itulah mungkin yang disebut keluarga.

Menjadi cerdas bukan di mana ia sekolah, melainkan bagaimana ia sekolah. Dan tujuan sekolah bukan mencari ijazah dengan nilai yang diwujudkan dalam tingginya angka keberhasilan, melainkan mencari ilmu.

Refleksi 2

Keluarga adalah salah satu bentuk penghambaan, perbudakan yang mengasyikkan, walau mungkin kemudian menjadi sangat memuakkan, menyakitkan, dan segala efek domino negatif yang lain. Namun itulah salah satu bentuk persekutuan yang terbaik dalam kerja sama mencari sedetik nikmat tanpa tara.

Dulu, problem kependudukan belum terasa  karena bumi masih sanggup memenuhi. Namun jagat raya berubah setiap detik dengan persoalan kelahiran manusia yang tidak terkendali. Jadi terbentuknya keluarga dan jenisnya adalah berburu nikmat membawa petaka.

Adapun kekejaman manusia yang kesurupan mencari hidup melebihi binatang. Yang lebih keji adalah perlakuan yang diperbuat bangsanya sendiri, yang katanya beradab dan bercitra bangsa sangat ramah dan suka damai. Sebaliknya, penjajah bangsa lain yang katanya kejam luar biasa itu dalam kenyataan sejarah membuktikan tidak seperti yang dilukiskan.

Kalau direnungkan lebih dalam, dunia manusia itu memang dunia fantasi dan misteri yang tidak pernah habisnya.

Refleksi 3

Hidup memang penuh misteri. Dan, misteri hidup adalah kehidupan penuh misteri itu sendiri. Hidup harus berani.

Kehidupan yang terujilah punya harga, punya nilai. Tanpa ujian hidup, semua pengalaman itu tidak lebih dari sampah. Pengalaman hidup yang telah teruji membikin manusia berpikir. Dan, dari sanalah diharapkan seseorang menjadi bijak.

Ada ungkapan menarik bahwa orang yang tidak pernah susah dalam hidup, ia tidak punya modal untuk menjadi manusia bijak. Dan, bijak itu tidak ditemukan di bangku sekolah mana pun. Revolusi berpikir yang melahirkan kecerdasan dan kebijaksanaan itu tidak memerlukan ijazah. Dalam menguak karier, yang sering disebut dengan kecerdasan yang dipungut di mana pun bagi mereka yang berpikir sebagai sarana untuk menemukan jati diri, dan mengakui bahwa diri sendiri salah,, lemah.

Pengakuan jujur terhadap diri pribadi itulah mungkin yang melahirkan pencerahan diri untuk mengubah hidup menjadi sesuatu yang lebih baik pada masa mendatang.

Budaya malas membaca adalah kekuatan yang melemahkan bangsa dan negeri ini dari segala aspek ekonomi, sosial, dan budaya. Singkat kata, semuanya tanpa kecuali. Budaya korupsi yang merajalela pun barang impor, bukan hanya perbuatannya. Kata “korupsi”pun barang impor. Bahkan korupsi sudah merambah ke wilayah yang berkait dengan keyakinan mayoritas negeri ini.

Refleksi 4

Sumber ilmu pengetahuan adalah pengalaman. Orang bebas menambahkan, dengan pengalaman, kalau disadarinya akan berkembang menjadi basis pengetahuannya. Namun pengalaman tanpa kritis yang berkait dengan otak dan hatinya akan tetap menjadi pengalaman yang tidak memberikan sentuhan apa-apa dalam diri seseorang. Pengetahuan akan memberi cukup berbagai hal lain untuk memunculkan kesempatan terjadinya perubahan.

Belajar adalah proses mudah.Mengambil hikmah dari belajar itu yang tidak mudah. Untuk bisa mendapatkan hikmah, seseorang perlu dibekali minat. Ketarikan yang mendorong membuka alam pikiran atas hal-hal baru yang dipelajari. Sedang kemampuan setiap orang untuk itu berbeda. Akibatnya, kualitas seseorang dalam mempelajari sesuatu tumbuh berbeda dan pasti tidak sama. Namun menciptakan manusia unggul tidak ada artinya kalau yang tercipta itu tidak mengerti apa dirinya diciptakan untuk menjadi unggul.

Otak manusia yang memunculkan ide yang batas. ia adalah salah satu unsur bagaimana supaya ia tetap ada. Entah bagaimana caranya. Tidak salah kalau ada ungkapan, “saya berpikir maka saya ada”. Suatu kesimpulan yang sangat luar biasa dan di atas jauh pemikiran manusia umumnya.

Refleksi 5

Bukankah semua orang berhak berbicara? Bukankah memperoleh kebenaran itu mahal harganya? Bukankah dalam menang dan kalah itu perlu ada tekad dan keberanian? Dan, keberanian itu hanya dimiliki orang yang masih hidup. Keberanian seseorang adalah keberanian tunggal. Kadarnya untuk setiap orang pasti berbeda. Dan, risikonya juga dinikmati sendiri. Entah kalau nilai yang timbul dari keberanian tersebut.

Dalam hidup setiap orang dibelit oleh fenomena, duka nestapa dan bahagia. Segala sumber hidup mengandung inti baik dan buruk. Ia mencari keseimbangan sendiri. Barangkali relevan kata mutiara sang Buddha Gautama bahwa hanya keinginan yang berdasarkan kesadaran dan kearifan yang akan menjadi sumber kebahagian dan kedamaian. Namun manusia melangkah dengan gelagat dan keinginannya sendiri. Manusia dikuasai nafsu yang merupakan kodratnya. Tidak tahu itu bisa menyebabkan penderitaan orang lain. Isi dunia ini memang penuh paradoks. Ilmu yang dibangun manusia juga penuh kontradiksi.

Bagaimanapun tujuan hidup setiap orang berbeda, meskipun bukan masalah panjang-pendek umur, kenikmatan hidup itu bergantung pada kualitas hidupnya. Dulu, ketika manusia umumnya mematuhi norma-norma yang ada, evolusi manusia pada manusia menuju ke peradaban yang lebih baik. Namun belakangan perkembangan ilmu pengetahuan menciptakan nilai justru lebih besar negatifnya dari positifnya.

Seperti Leo Tolstoy katakan, “kegalauan saya sekarang sebenarnya tidak ada. Juga kenikmatan yang telah pernah saya alami, dua-duanya hanya bisa dirasakan, tidak bisa digenggam. Sesuatu yang tidak bisa digenggam barangkali bukan barang yang bisa disimpan; ia membusuk dalam alam pikiran. Susahnya, manusia secara kodrat sangat sering dikalahkan oleh nafsu-nafsu tidak terkendali yang justru menghancurkan diri sendiri. Kehancuran macam itu jelas menyusahkan diri sendiri. Namun manusia justru menyukai dan menikmatinya, dan berusaha mencarinya sampai mati. Tanpa sadar. Tanpa akal, walau ia berpikir.

Refleksi 6

kalau disiksa mengatakan normal, apakah itu wajar? Bukankah manusia punya kebebasan mutlak dalam berpendapat melalui otaknya? Mungkin orang lain bisa menyimpan rahasia pribadinya itu dalam-dalam lubuk hati. Manusia adalah makhluk pemburu makna. Dan, mencari makna itu ditempuh dengan sejuta akal bulus.

Ungkapannya “Saya berpikir, maka saya ada”, sedangkan saya tidak berpikir pun berpikir. Berpikir bahwa saya tidak berpikir. Orang berpikir itu belajar. Belajar berpikir.Belajar berpikir. Karena berpikir itu belajar.

Setiap orang yang ingin bermakna harus belajar, di mana pun, juga melalui pikirannya sendiri. Karena pintar itu relatif, kalau dikaitkan dengan pendapat orang lain. Secara makhluk tunggal punya pendapat tunggal pula. Apalagi kalau ditunggangi kepentingan pribadi. Pada galibnya manusia adalah pengagum diri sendiri, seorang narsis, demi kepentingan sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s